Suhail bin Amru “Tawanan Perang Menjadi Pembela Kebenaran”


Suhail bin Amru adalah seorang lelaki pembesar di lingkungan kaum Quraisy. Ia adalah seorang negosiator dan orator ulung, yang mana dikisahkan saat ia menjadi tawanan perang Badar. Saat itu Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah: “wahai Rasulullah, biarkan saya mencabut dua gigi depan Suhail bin Amru agar ia mulai hari ini ia tidak bisa berorasi menghinamu.”


Rasulullah bersabda, “Jangan wahai Umar, aku tidak akan merusak tubuh seseorang karena nanti Allah akan merusak tubuhku walaupun aku ini seorang Nabi.” Kemudian Rasulullah menarik Umar ke dekatnya, lalu bersabda, “Wahai Umar, mudah-mudahan esok pendirian Suhail akan berubah menjadi seperti yang kamu sukai.”


Pada akhir tahun 6 H, Rasulullah bersama para shahabatnya mengadakan perjalanan ke Mekkah dengan tujuan berziarah ke Baitullah dan melakukan umrah, bukan untuk berperang, Keberangkatan mereka ini diketahui oleh Quraisy, sehingga mereka keluar untuk menghalangi dan membatalkan niat kaum muslimin. Suasana pun menjadi tegang dan hati kaum Muslimin berdebar-debar. Rasulullah bersabda kepada para shahabatnya, “Jika pada waktu ini Quraisy mengajak kita untuk menyambung pertalian silaturahmi, aku kupenuhi.” Quraisy pun mengirim utusan-utusannya kepada Rasulullah. Beliau selalu memberitahukan kepada mereka bahwa beliau datang hanya mengunjungi Baitul Haram dan menjunjung tinggi kesuciannya. Setiap utusan Quraisy kembali tanpa hasil, mereka mengirim lagi utusan yang lebih bijak dan lebih disegani, hingga sampai pada giliran Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi.
Ia merupakan tokoh Quraisy yang paling cerdas dan memiliki argument yang kuat. Menurut anggapan Quraisy, ia akan mampu meyakinkan Rasulullah untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, tidak lama setelah itu, Urwah kembali lagi dan berkata kepada mereka, “Wahai kaum Quraisy, aku pernah berkunjung kepada raja-raja persia, romawi, dan yaman di istana mereka masing-masing. Namun, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang dihormati oleh rakyatnya seperti halnya Muhammad dihormati oleh para shahabatnya. Aku melihat di sekelilingnya suatu kaum yang sekali-kali tidak akan rela membiarkannya ditimpa keburukan. Karena itu, pertimbangkanlah rencana kalian dengan baik.”
Saat itu orang-orang Quraisy meyakini usaha mereka tidak berhasil. Mereka akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan perundingan. Dalam pelaksanaannya, mereka memilih Suhail bin Amr. Kaum Muslimin melihat Suhail saat ia datang dan mereka langsung mengenal siapa dia. Kedatangannya membuat kaum Muslimin memahami maksud orang-orang Quraisy untuk berdamai dan mencapai kesepakatan. Suhail duduk berhadapan dengan Rasulullah dan terjadilah perundingan yang berlangsung lama di antara mereka dan berakhir dengan tercapainya nota kesepakatan damai. Dalam perundingan ini Suhail berusaha mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya bagi Quraisy. Hal ini dipermudah oleh toleransi luhur dan mulia dari Rasulullah. Namun pada kenyataannya, Quraisy telah berkhianat atas perjanjian yang telah dibuat. Pada tahun 8 H, Rasulullah bersama kaum Muslimin berangkat untuk membebaskan Mekkah, rasulullah beserta dengan kaum Muhajirin yang kembali ke kampungnya beserta kaum Anshar yang telah menerima mereka di Madinah. Orang-orang musyrik quraisy tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam kondisi yang sudah terdesak tersebut, kaum quraisy justru mendapat perlakuan istimewa dari Rasulullah. Dengan lapang dada dan sikap lemah lembut beliau bersabda, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apakah yang akan aku lakukan terhadap kalian?” Mendengar itu, Suhail bin Amr (saat itu belum beriman) menjawab, “Kami yakin engkau akan berbuat baik karena engkau adalah saudara kami yang mulia, putra saudara kami yang mulia.” Sebuah senyuman bagaikan cahaya, tersungging di kedua bibir Rasulullah kekasih Allah itu, lalu bersabda, “Pergilah kalian karena kalian semua bebas.”
Perkataan Rasulullah tersebut sejatinya akan menimbulkan rasa malu dan penyesalan. Hal itulah yang dirasakan oleh Suhail bin Amr, yang saat itu juga menyatakan keislamannya. Keislamannya itu bukanlah keislaman seorang lelaki yang kalah dan putus asa tapi sebaliknya, keislaman seseorang yang terpikat dan terpesona oleh kebesaran Rasulullah Muhammad dan kebesaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad sesuai dengan ajarannya.
Islam telah menempa ulang dirinya, kemampuan yang telah ia miliki dipertajam dengan kemampuan yang baru demi membela agama Allah. Orang-orang melukiskan sifatnya dalam beberapa kalimat, “Pemaaf, pemurah, banyak shalat, puasa, bersedekah, membaca Al-Qur’an, dan menangis disebabkan takut kepada Allah.”


Itulah keagungan besar Suhail bin Amr. kita melihat keislaman dan keimanannya itu dapat mengasah keyakinannya hingga dapat menguasai keseluruhan dirinya dan mengubahnya menjadi seorang ahli ibadah dan zuhud, selain sebagai mujahid di jalan Allah.
Ketika Rasulullah wafat, saat berita itu sampai ke Suhail yang pada saat itu tinggal di Mekkah. kaum Muslimin yang berada di sana sangat kaget dan tidak percaya. Keresahan kaum Muslimin di Madinah ketika itu dapat dilenyapkan oleh Abu Bakar dengan kata-katanya yang tegas, “Barang siapa yang menyembah Nabi Muhammad, sesungguhnya Nabi Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah tetap hidup dan tidak mati untuk selama-lamanya.” Suhail turut menjadi tokoh penting dalam peristiwa genting tersebut. Di Mekah ia melakukan seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar di Madinah. Ia mengumpulkan seluruh penduduk, lalu berdiri untuk mengatakan bahwa Muhammad itu benar-benar utusan Allah dan bahwa ia tidak wafat kecuali setelah menyampaikan tugasnya dengan sempurna. . Sekarang tugas orang-orang beriman adalah meneruskan perjalanan dengan menempuh jalan yang telah ditunjukkan oleh beliau.
Ketika nubuat Rasulullah tersebut menjadi kenyataan, Suhail bin Amr yang sebelumnya ahli pidato tersohor bagi Quraisy itu berubah menjadi pidato ulung bagi Islam. Ia berubah dari seorang musyrik yang fanatic menjadi seorang Mukmin yang taat. Kedua matanya tidak pernah kering dari air mata disebabkan takutnya kepada Allah. Ia, yang sebelumnya merupakan salah seorang pemuka dan panglima Quraisy itu, berganti haluan menjadi prajurit yang tangguh di jalan Islam; seorang prajurit yang telah berjanji terhadap dirinya akan selalu ikut berjihad dan berperang sampai mati dalam peperangan dengan harap Allah akan mengampuni semua dosanya di masa lalu.


Saat Suhail masuk Islam pada hari pembebasan Mekkah dan setelah ia merasakan manisnya iman, ia berjanji terhadap dirinya yang dimaksudnya dapat disimpulkan pada kalimat-kalimat berikut ini, “Demi Allah, sikap apa saja yang pernah aku tunjukkan kepada orang-orang musyrik, aku pasti akan membalasnya dengan sikap yang menguntungkan kaum Muslimin. Dan setiap aku memberikan dana kepada orang-orang musyrik, aku pasti akan memberikannya seperti itu kepada kaum Muslimin. Semoga semua perbuatanku belakangan ini dapat mengimbangi segala perbuatanku pada masa lalu.”

Keteladanan yang dicontohkan oleh Suhail bin Amru ialah tidak berpaling dari kebenaran. Ia juga selalu berjuang membela agama Allah seperti pembelaannya pada masa lalunya. Suhail adalah seorang yang mencintai Mekkah kampung halamannya hingga tidak peduli terhadap dirinya. Walaupun demikian, ia tidak ingin kembali ke sana setelah kemenangan kaum Muslimin di Syria. Ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Kedudukan salah seorang dari kalian di jalan Allah sesaat saja itu lebih baik baginya daripada amalnya sepanjang usia.’ Karena itu, aku akan berjuang di jalan Allah sampai mati dan tidak akan kembali ke Mekkah.”
Suhail memenuhi janjinya ini. Ia tetap berjuang di medan perang sepanjang hayatnya, hingga tiba saat perjalanan abadinya. Rohnya terbang cepat untuk mendapatkan rahmat dan ridha Allah.

Sumber
Khalid Muhammad Khalid. Januari 2020.“60 surah sahabat Rasulullah SAW”. Jakarta. AL-I’TISHOM. Cetakan keempat belas.
http://pendalaman-tokoh.blogspot.com/2014/01/suhail-bin-amr-dari-tawanan-yang.html

Khalid bin Walid: Pedang Allah yang Terhunus


“Sungguh dengan tanganku ini telah terpotong Sembilan pedang pada saat peperangan Mu’tah sehingga tidak tertinggal di tanganku kecuali sebuah pedang yang berasal dari Yaman.
Khalid bin Walid adalah salah satu sahabat Nabi yang lahir pada 585 Masehi di Makkah. Ia memiliki nama lengkap Abu Sulayman Khalid ibn all-Walid ibn al-Mughirah al-Makhzumi. Ia lahir di lingkungan kaum Quraisy, yang mana kaum tersebut adalah kaum yang memerangi Nabi Muhammad Saw. Ayahnya bernama al Walid ibnul Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzumi. Dikatakan bahwa Walid adalah seorang pemuka kaum Quraisy yang menjabat sebagai seorang hakim, dan juga pemersatu bangsa arab. Ia juga dikenal sebagai pemberi pinjaman dengan riba. Ibundanya bernama Lubabah binti al-Harith, saudari Ummul Mukminin (istri Rasulullah): Maimunah binti al-Harits ra.
Khalid dikatakan oleh Rasulullah Saw. memiliki perawakan yang sangat mirip dengan Umar bin al-Khattab. Ia memiliki tubuh yang kekar dan kuat, berpundak lebar. Selain memiliki postur yang gagah, Khalid bin Walid dikenal sebagai ahli strategi berperang. Tercatat bahwa selama pertempuran yang ia jalankan (sekitar 100 kali) pada masa sebelum dan setelah masuk islam, baik itu pertempuran besar, kecil, dan duel tunggal, ia tidak pernah sekalipun menelan kekalahan. Hal ini yang kemudian menjadikannya sebagai asset berharga kaum muslimin dengan julukan “Pedang Allah yang Terhunus.”
Awalnya, Khalid bin Walid adalah panglima kaum Quraisy. Hal yang paling dikenal ialah dimana saat-saat pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Khalid, berhadapan dengan kaum Muslimin di pertempuran Uhud. Meski pasukannya sudah terdesak, Khalid melihat satu celah pada pasukan kaum Muslimin dimana ia melihat para pemanah kaum Muslimin mulai menuruni bukit Uhud untuk mengambil rampasan perang yang ditinggalkan kaum Quraisy. Melihat ketidakpatuhan pasukan Muslimin tersebut membuat Khalid mampu membalikkan keadaan dimana pasukannya memutari bukit Uhud dan menyerang kaum Muslimin dari belakang. Hal tersebut membuat kaum Muslimin kalah.
Awal mula muslimnya seorang Khalid bin Walid adalah ketika perjanjian Hudaibiyyah, dimana perjanjian itu berisi penghentian perang dalam jangka 10 tahun yang mana umat Muslim diperbolehkan menunaikan ibadah di Mekah. Ketika Rasulullah Saw. masuk ke kota Mekah, saudara Khalid, al Walid mencari Khalid. Namun ia tidak berhasil menemukan Khalid yang kemudian ia mengirim surat untuknya. Di dalam surat tersebut, al Walid mengatakan bagaimana kejeniusan seorang Khalid yang didoakan Rasulullah Saw. untuk mengimani Islam. Di dalam surat tersebut juga al-Walid meminta saudaranya, Khalid untuk menemui Rasulullah dan masuk kedalam Islam.
Saat setelah menerima surat tersebut, Khalid merasa gembira mengetahui bahwa Rasulullah pernah bertanya tentang dirinya. Hal itu yang kemudian membuatnya semakin mantap mengikuti agama Muhammad. Ia mengimani bahwa Muhammad adalah seseorang yang diutus Allah sebagai Rasul. Sesaat setelah mempersiapkan kuda nya, tiba-tiba ia bertemu dengan Utsman bin Thalhah yang merupakan sahabat dekatnya. Kemudian Khalid menyampaikan rencananya untuk menemui Rasulullah yang pada akhirnya Utsman turut bersama Khalid menemui Rasulullah. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Amr bin Ash yang mana ternyata ia juga ingin menemui Rasulullah untuk masuk Islam juga. Kemudian ketiganya berangkat menemui Rasulullah untuk berislam.
Kapasitasnya sebagai ahli strategi perang tidak berubah. Kemampuannya kian gemilang saat pasukan muslim mengalami kejayaan di daratan Arab. Hingga ketika Rasulullah wafat, ia tetap menjadi kepercayaan umat muslim sebagai panglima perang sejak masa Khalifah Abu Bakar hingga masa Khalifah Umar bin Khattab. Namun satu ketika Umar bin Khattab memutuskan untuk mencopot Khalid dari jabatannya sebagai panglima perang. Hal ini didasarkan pada keyakinan pasukan muslim pada masa itu bahwa jika ada Khalid bin Walid dalam pertempuran, kaum muslimin pasti menang. Hal ini dikhawatirkan oleh Umar akan mengusik tauhid umat Muslim yang lebih mempercayai kemenangan akan diraih dengan perjuangan Khalid daripada pertolongan Allah.
Keteladanan yang dapat dicontoh darinya adalah bagaimana ia adalah seorang yang cerdas, yang mampu melihat peluang dan berpikir out of the box. Ia tidak menutup mata pada kebenaran dan kemenangan. Ia melihat kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. dan menyatakan keimanannya, tanpa rasa gengsi karena pernah mengalahkan kaum muslimin. Hal lainnya yang mencerminkannya sebagai seseorang yang cerdik ialah pada saat sebelum ia menjadi seorang muslim, ia melihat peluang kecil di perang Uhud yang membawa kemenangan bagi kaumnya, Quraisy pada saat itu. Kemudian pada pertempuran mu’tah, pasukan muslim yang jumlahnya 3 ribu melawan pasukan Heraklius yang berjumlah 200 ribu. Ia berfikir out of the box dengan menukar setiap sisi pasukannya sehingga mengecoh pasukan Romawi hingga membawa kemenangan bagi muslimin. Dengan kesabaran dan optimismenya, ia mampu menggerakkan serta memberi energy positif bagi pasukannya. Wallahu a’lam.

Referensi:
Wikipedia.org. 2019. Khalid bin Walid. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Khalid_bin_Walid
Kisahmuslim.com. Biografi Khalid bin Walid. https://kisahmuslim.com/1517-biografi-khalid-bin-walid.html
dr. Raehanul Bahraen, M.Sc,Sp.PK. 2019. Panglima Khalid bin Walid Diganti Karena Kemaslahatan Tauhid. https://muslim.or.id/45570-panglima-khalid-bin-walid-diganti-karena-kemashlahatan-tauhid.html
kisahmuslim.com. Khalid bin Walid ‘Pedang Allah’ yang Tak Terkalahkan https://kisahmuslim.com/2705-khalid-bin-walid-pedang-allah-yang-tak-terkalahkan.html

Mukjizat Isra’ Mi’raj

Isra’ adalah perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di al-Quds.

Mi’raj ialah kenaikan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk malaikat, manusia, dan jin.
Semua itu ditempuh dalam semalam.
Terjadi silang pendapat tentang terjadinya mukjizat ini. Apakah pada tahun kesepuluh kenabian ataukah sesudahnya?
Menurut riwayat Ibnu Sa’ad di dalam Thabaqat-nya, peristiwa ini terjadi delapan belas bulan sebelum Hijrah. Jumhur kaum Muslimin sepakat bahwa perjalanan ini dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jasad dan ruh. Karena itu, ia merupakan salah satu mukjizatnya yang mengagumkan yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Kisah perjalanan ini disebutkan oleh Bukhari dan Muslim secara lengkap di dalam Shahih-nya.
Disebutkan bahwa dalam perjalanan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggang buraq yakni satu jenis binatang yang lebih besar sedikit dari keledai dan lebih kecil sedikit dari unta. Binatang ini berjalan dengan langkah sejauh mata memandang.
Disebutkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Masjidil Aqsha lalu shalat dua raka’at di dalamnya. Jibril kemudian datang kepadanya seraya membawa segelas khamr dan segelas susu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memilih susu. Setelah itu, Jibril berkomentar, “Engkau telah memilih fitrah.” Dalam perjalanan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam naik ke langit pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sampai ke Sidratul Muntaha. Di sinilah kemudian Allah mewahyukan kepadanya apa yang telah diwahyukan, di antaranya kewajiban shalat lima waktu atas kaum Muslim, di mana pada awalnya sebanyak lima puluh kali sehari semalam.

Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam me- nyampaikan apa yang disaksikannya kepada penduduk Makkah. Akan tetapi, oleh kaum musyrik, berita ini didustakan dan ditertawakan. Sebagian mereka menantang Rasulullah untuk menggambarkan Baitul Maqdis jika benar ia telah pergi dan melakukan shalat di dalamnya. Padahal ketika menziarahinya, tidak pernah terlintas dalam pikiran Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk menghafal bentuknya dan menghitung tiang-tiangnya. Allah kemudian memperlihatkan bentuk dan gambar Baitul Maqdis di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga dengan mudah beliau menjelaskannya secara rinci sebagaimana yang mereka minta.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَمَّا كَذَّبَتْنِي قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَا اللَّهُ لِي بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَطَفِقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَيْهِ
“Ketika kaum Quraisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr (Isma’il), lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis kepadaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya dari apa yang aku lihat.”

Berita ini oleh sebagian kaum musyrikin
disampaikan kepada Abu Bakar dengan harapan dia akan menolaknya. Ternyata Abu Bakar menjawab, “Jika memang benar Muhammad yang mengatakannya, dia telah berkata benar dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari itu,” Pada pagi hari dari malam Isra’ itu, Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara shalat dan menjelaskan waktu-waktunya. Sebelum disyariatkannya shalat lima waktu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dua raka’at di pagi hari dan dua raka’at di sore hari sebagaimana dilakukan oleh Ibrahim ‘alaihis salam.

Source :

Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy. 2006. Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergelangan Islam di Masa Rasulullah SAW. Jakarta : Robbani Press.

GEMAR (Gerakan Menutup Aurat) 2020

Universitas Lampung – Tepat pada tanggal 20 Februari 2020 Birohmah dan seluruh Lembaga Dakwah di Universitas Lampung mengadakan kegiatan GEMAR (Gerakan Menutup Aurat). Kegiatan ini dilakukan di bunderan Universitas Lampung serta membukan stand disetiap fakultas.

Gemar merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada bulan februari dengan tanggal yang tidak menentu. Bukan hanya di Unila saja yang mengadakan kegiatan ini, tetapi seluruh LD se-Universitas di Indonesia.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak saudara-saudara muslimah kita yang belum berhijab untuk segera menutup auratnya, dengan cara membagikan souvenir yang berisikan manik-manik kece untuk hijab dan membuka stand hijab disetiap fakultas.

Mereka yang mendapatkan kupon bisa menukarkannya dan bebas memilih ingin memilih rok, tunik, khimar ataupun kaos kaki. Inti dari kegiatan ini adalah berdakwah untuk muslimah agar mereka mau untuk menutup auratnya.


Wahai saudariku, suatu hari nanti tubuh kita semua akan tertutup dari ujung kepala sampai kaki (terbungkus kain kafan). Maka jangan sampai hari terakhirmu di muka bumi ini menjadi hari pertamamu mengenakan Hijab. Ingatlah, matahari tidak akan pernah kehilangan keindahannya saat tertutup awan. Begitu juga dengan kecantikanmu yang tidak akan pudar saat engkau mengenakan Hijab. Let’s love your self and Allah with your jilbab.

DAFTAR PENEMPATAN PEMAGANGAN STAFF FSPI 2020

  • BIDANG KADERISASI

Ikhwan

  1. Redo Bakas Pratama (Ilmu Pemerintahan)
  2. Taufiqe M. Zidane (Ilmu Pemerintahan)
  3. Hendra Winata (Ilmu Administrasi Negara)
  4. Apriza Bagus Saputra (Ilmu Komunikasi)
  5. Muhammad Iksal (Hubungan Internasional)
  6. M. Risky (Ilmu Pemerintahan)
  7. Eki (Sosiologi)

Akhwat

  1. Fiken Yamida (Sosiologi 2018)
  2. Diah Ayu Widianingrum (Ilmu Administrasi Negara 2018)
  3. Annisa Riski D (Ilmu Administrasi Bisnis 2018)
  4. Desty Anggi (Ilmu Administrasi Bisnis 2018)
  5. Afriza Selvilia (Ilmu Pemerintahan 2019)
  6. Anada Syofira (Ilmu Administrasi Negara 2019)
  7. Fania Anissa Istiqomah (Sosiologi 2019)
  8. Sabila Zakiyah (Ilmu Administrasi Negara 2019)
  9. Putri Nabila Amelia (D3 APS 2019)

  • BIDANG KAJIAN STRATEGIS

Ikhwan

  1. Wahyu Edi Waluyo (Adm Bisnis)
  2. Taufik Hidayat (Ilpem)
  3. Aldi Darmawan (Ilpem)
  4. Rahman Hadi (HI)
  5. Dwi Ariansyah (D3 Perpustakaan)
  6. Gilang Galuh P. (Ilpem)
  7. Dewaruci Alhakim (Ilpem)

Akhwat

  1. Sinta Cempaka (Ane 2019)
  2. Andiah Pramesti R.C (Sos 2019)
  3. Ema Anggraini (ilpem 2019)
  4. Milda Ummi Khusmiyati (Sos 2019)
  5. Adina Aprilia (sos 2019)
  6. Erika Tri Wahyuni (Ilpem 2019)
  7. Seila Mawarni (sos 2018)
  8. Rani Damayanti (D3 Humas 2018)

  • BIDANG MEDIA CENTER FSPI

Ikhwan

  1. Aldi Dharma Putra (Adm Negara)
  2. Riki Efendi (Adm Negara)
  3. Ali Zainal Abidin (Ilkom)
  4. Daffa Alsa (Ilkom)
  5. M. Arguntoro (Adm Bisnis)
  6. Nando Aji Rifai (Ilpem)
  7. Arya (Sosiologi)

Akhwat

  1. Tria Fadila (Sosiologi 2018)
  2. Farah (D3 Humas 2018)
  3. Tini Maharani (Ane 2018)
  4. Gita Dinia (ilkom 2018)
  5. Vidia Ayu (ilkom 2018)
  6. Tiara Audia (Ane 2019)
  7. Della Avisha Pudjadi (ilkom 2019)
  8. Sandra puspita (ilkom 2019)
  9. Siti Sarah (D3 APS 2019)

  • BIDANG KEMUSLIMAHAN
  1. Amelia Tasyah (Ane 2019)
  2. Hikmah Nazipah (Ane 2019)
  3. Sherly Marlina (Ane 2019)
  4. Dina Septiana (ABI 2019)
  5. Wenti Agustina (ilpem 2019)
  6. Diva Ayu Wandari (Ane 2019)
  7. Avon Nafisa (Ilpem 2019)
  8. Nabila (Ane 2019)
  9. Mutiara Tasya (Ane 2018)
  10. Diavinka Asty (Ane 2018)
  11. Annisa Merina Rusman (Sos 2018)

  • BIDANG DANA USAHA

Ikhwan

  1. Agung Andrea W. (Ilpem)
  2. Akmal Kurnia (Ilkom)
  3. Topan Sanjaya (Adm Negara)
  4. Farel Pradmudyo (Ilpem)
  5. Panji Purnama (Adm Bisnis)
  6. Sendy Nur Ahmad (Ilpem)

Akhwat

  1. Dewi Permatasari (ABI 2018)
  2. Maya Ervina (D3 Humas 2018)
  3. Yeni Anisalesti (ANE 2018)
  4. Minarti (D3 APS 2019)
  5. Adira Nur Adriany (ILKOM 2019)
  6. Murni Sari (ABI 2019)
  7. Novika Jesya Ratuliu (ABI 2019)
  8. Adhinda Mawar (ABI 2019)
  9. Sri Kartini (D3 Humas 2019)

  • Bidang Badan Urusan Masjid dan Kesekretariatan

Ikhwan

  1. Septian Nur Hidayat (Adm Bisnis)
  2. M. Risky Prayogi (Ilpem)
  3. Arijovansa (Ilpem)
  4. Komang Ariyanto (Sosiologi)
  5. Rizky Alvales (D3 Humas)
  6. Risandi Koswara (Adm Negara)

Akhwat

  1. Fitri Duaya (Sos 2018)
  2. Rani Dea Safitri (Ane 2018)
  3. Krisdiani (D3 APS 2018)
  4. Firsty Yusdanissa A (Ane 2019)
  5. Dinda Pitaloka (Ilkom 2019)
  6. Dina Safitri (Abi 2019)
  7. Vira Ayu Safila (D3 Perpustakaan 2019)
  8. Ukti Khoirunnisa (ABI 2019)

  • BIDANG HUBUNGAN MASYARAKAT

Ikhwan

  1. Chiesa Risky (Adm Negara)
  2. Ridho Efendhi (Ilkom)
  3. Faris Naufal (HI)
  4. Arif Tristomo (HI)
  5. Ahmad Fauzan (HI)
  6. Farhan Nur Fikri (Ilpem)

Akhwat

  1. Tania Lorenza (ILPEM 2018)
  2. Siti Hani (ILPEM 2018)
  3. Yosi Linawati (SOS 2018)
  4. Adelia Putri (ILPEM 2018)
  5. Fiola Prasantika (ANE 2018)
  6. Riska Ika Yulia (ILPEM 2019)
  7. Yolanda Putri (Ilpem 2019)
  8. Sucia Wati (ILPEM 2019)
  9. Novita Andini (ABI 2019)
  10. Mely Melsadila (ABI 2019)

  • BIDANG AKADEMIK DAN RISET

Ikhwan

  1. Agung Yuda P. (Ilpem)
  2. Ahmad Arrofian Taufiq (HI)
  3. Ramadhani (HI)
  4. Danar Tedjo Laras (Adm Negara)
  5. Albi Nasuha (Adm Negara)
  6. Meggy Lisdianto (Sosiologi)
  7. Bagus Saputra (Sosiologi)

Akhwat

  1. Leony Masrifa F (HI 2018)
  2. Nadia Khumairatun Nissa (SOS 2018)
  3. Padila (ANE 2018)
  4. Tri Yuniati (ILKOM 2019)
  5. Rido Putri Mashuri (ILPEM 2019)
  6. Ayu Nurfita Sari (ILPEM 2019)
  7. Nur Aini Fadilah (ANE 2019)
  8. Srei Nur Astuti (ANE 2019)
  9. Alfhitri Ismaysuri (ILKOM 2019)

  • Badan Semi Otonom Bimbingan Baca Qur’an (BSO BBQ)

Ikhwan

  1. Muhammad Ulil Absor (Ilkom)
  2. Agun Arsih (Ilpem)
  3. Andar Kurniawan (Adm Bisnis)
  4. Ahmad Agung Wijaya (Adm Bisnis)
  5. Fajar Ghosiyah (HI)
  6. Teddy J (Adm Bisnis)

Akhwat

  1. Yuanira Sevia Egi (D3 Humas 2018)
  2. Munirotul Azizah (Ilkom 2018)
  3. Annisa Ghina Istighfarany (Ilkom 2018)
  4. Siska Febryani (Abi 2019)
  5. Widya Puspitarani D (ABI 2019)
  6. Azhar Azkiya (Ilkom 2019)
  7. Sonya Mumtaz (HI 2019)
  8. LC Hsia Asri Lam’a Bourlyn (ABI 2019)
  9. Rizka Nurhaliza (Sosiologi 2019)

Documentary Book FSPI 2019

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Halo semua…

Wah, ngga kerasa yaa hampir genap satu tahun Kabinet Madani menemani teman teman semua. Berikut ini kami sajikan kumpulan dokumentasi kegiatan selama satu tahun kepengurusan. Ngga semuanya juga sih, tapi secara garis besar, hehe.

Cover Documentary Book FSPI 2019

Buat kalian yang mau liat bagaimana isi bukunya silahkan di download di link berikut yaa

bit.ly/DocumentaryBookFSPI